MAKALAH
PENGANTAR PENDIDIKAN
“DASAR-DASAR PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR”
Dosen Pengampu : Septi Fitri Meilana, M.Pd
Disusun
Oleh
Nama
Kelompok II :
1. Rizky Kurnia Rajib
2. Galuh Maheswari
3.
Miftahul Jannah
Prodi
: Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Kelas
: 1G
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF DR. HAMKA
JAKARTA
2017
KATA
PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT kami
dapat menyelesaikan tugas pembuatan makalah yang berjudul “Dasar-Dasar Pembelajaran Di Sekolah” dengan lancar.
Dalam pembuatan makalah ini, Penulis mendapat
bantuan dari berbagai pihak yang telah banyak membantu sehingga pembuatan
makalah ini dapat berjalan lancar. Dan
kami ucapkan terimakasih kepada Ibu Septi Fitri Meilana, M.Pd yang
telah memberi kesempatan dan memfasilitasi kepada kami sehingga makalah ini
bisa selesai dengan lancar. Teman-teman yang telah memberikan bantuan do’anya, sehingga pembuatan makalah ini dapat
terselesaikan.
Akhir kata semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi
pembaca pada umumnya dan penulis penyusun pada khususnya, kami menyadari bahwa
dalam pembuatan makalah ini masih jauh dari kata sempurna untuk itu kami menerima saran dan kritik yang bersifat
membangun demi perbaikan kearah kesempurnaan. Sebelum dan sesudahnya kami
ucapkan terimakasih.
Jakarta, 15 Oktober 2017
KELOMPOK
2
Tim Penyusun
DAFTAR ISI
JUDUL
……………………………………………..……………………….…... 1
KATA PENGANTAR............................................................................................2
DAFTAR ISI...........................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang ..................................................................................................4
1.2 Rumusan
Masalah..............................................................................................4
1.3 Tujuan
Penulisan ...............................................................................................5
1.4 Manfaat
Penulisan .............................................................................................5
BAB II ISI
2.1 Hakikat Proses Pembelajaran .........................................................................6-9
2.2 Aspek-Aspek Serta Arah
Perkembangan....................................................10-11
2.3 Pendekatan
Pembelajaran...........................................................................12-15
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan......................................................................................…….........16
3.2 Saran
................................................................................................................17
LAMPIRAN .........................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA
..........................................................................................19
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Sejak adanya manusia di muka bumi ini dengan peradabannya
maka sejak itu pula pada hakikatnya telah ada kegiatan pendidikan dan
pengajaran. Berbeda dengan masa sekarang, dimana pendidikan pengajaran itu
diselenggarakan di sekolah pada masa lampau kegiatan dilaksanakan di dalam
kelompok-kelompok masyarakat, yang dewasa ini kita disebut dengan istilah
pendidikan informal.
Sekolah adalah sesuatu lembaga yang memberikan pengajaran
kepada murid-muridnya. Lembaga pendidikan ini memberikan pengajaran secara
formal. Berbeda halnya dengan keluarga dan masyarakat yang memberikan pendidikan
secara informal.
Menurut pengertian umum, sekolah adalah tempat mengajar
dan belajar (school is building or institutional for teaching and learning).
Ditilik dari perumusan tersebut maka pada dasarnya sekolah bukan saja
disediakan untuk anak-anak tetapi juga meliputi lembaga pendidikan yang
disediakan untuk orang dewasa, seperti : kursus-kursus, pusat pendidikan
keterampilan, lembaga-lembaga kemasyarakatan yang bertujuan memberikan
pengajaran, seperti penataran untuk penyuluhan perumahan rakyat, penalaran para
lurah dan pejabat pemerintahan.
Sejak dahulu kala, para ahli filsafat telah mencoba
memberikan batasan tentang apa yang dimaksud dengan ilmu. Masing-masing ahli
berlainan pendapatnya. Hanya satu prinsip yang bisa dianggap sama, yaitu bahwa
setiap ilmu adalah pengetahuan manusia tentang jagad raya ini.
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan
melalui pengalaman. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari
itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan
melainkan pengubahan kelakuan.
Pengalaman diperoleh berkat interaksi antara individu
dengan lingkungan. Pengalaman adalah sebagai sumber pengetahuan dan
keterampilan, bersifat pendidikan, yang merupakan satu kesatuan di sekitar
tujuan murid, pengalaman pendidikan bersifat kontinu dan interaktif, membantu
integrasi pribadi
murid pada garis besarnya pengalaman itu terbagi menjadi dua, yaitu pengalaman
pribadi dan pengalaman bangsa.
1.2 Rumusan
Masalah
Agar
lebih memperjelas tentang dasar-dasar pembelajaran disekolah. Maka penyusun
merumuskan masalah sebagai berikut :
1.
Apa
hakikat proses pembelajaran ?
2.
Apa
aspek-aspek agar pembelajaran berkembang?
3.
Apa
pendekatan dalam proses pembelajaran?
1.3 Tujuan
Penulisan
Adapun
tujuan pembuatan makalah ini sebagai berikut :
1.
Untuk
memenuhi tugas kelompok Pengantar Pendidikan
2.
Untuk
mengetahui hakikat pembelajaran dan menambah wawasan pengetahuan
3.
Untuk
menambah pengetahuan tentang dasar-dasar pembelajaran di sekolah.
1.4 Manfaat
Penulisan
2.
Mengetahui
hakikat pembelajaran
3.
Mengetahui
aspek-aspek pembelajaran
4.
Mengetahui
pendekatan-pendekatan dalam proses pembelajaran
BAB
II
ISI
2.1 HAKIKAT PROSES PEMBELAJARAN
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang
kompleks. Dimyati dan Mudjiono (2009:9) Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh sesuatu yang ada di
lingkungan sekitar . Proses pembelajaran merupakan implementasi (penerapan) kurikulum
sebagai salah satu unsur (komponen) dari system pembelajaran (instruksional).
adapun komponen yang mencakup pembelajaran sebagai system :
1) Input
(masukan) berupa:
a. guru (pendidik, pembelajar)
b.
siswa
(si terdidik, peserta didik, pebelajar, murid)
c. materi
(bahan pengajaran)
d. metode
e. media
2) Proses pembelajaran
(proses mengajar-belajar, teaching-learning)
3) Out-put
(keluaran, hasil), yaitu manusia “dewasa” (terdidik, berpendidikan).
Karena
proses pembelajaran merupakan implementasi kurikulum, maka menuntut guru untuk
berperan dalam mengartikulasikan (mewujudkan, menjabarkan) kurikulum bahan
pelajaran dan mengembangkan program pembelajaran secara baik dan tepat. Kurikulum
adalah suatu program pendidikan yang disediakan untuk membelajarkan siswa (H. Malik etheses.uin-malang.ac.id/5038/1/09110035.pdf), .Untuk itu guru harus memahami tentang tujuan dan isi
kurikulum. Dalam proses pembelajaran, guru berperan sebagai:
1.
Fasilitator, yang artinya memfasilitasi
dan merancang terjadinya proses pembelajaran
2.
Tranformator,
yang artinya menstransfer, menyerahkan, memindahkan, mengkomunikasikan dan
melatihkan: ilmu dan seni/budaya serta keterampilan.
3.
Membantu
siswa mengembangkan ranah (aspek) kognisi (rasio, pikiran, gagasan,
opengetahuan, sebagian fungsi belahan otak kiri)
4.
Afeksi,
yang artinya emosi, perasaan, aestetis, apresiasi, sebagai fungsi belahan otak
kanan.
5.
Konasi
yang artinya keinginan,kehendak,motivasi,sikap.
6.
Psikomotoris,yang artinya keterampilan.
Menurut
Slameto (2010) belajar yang efektif dapat
membantu siswa untuk meningkatkan kemampuan yang diharapkan sesuai dengan tujan
instruksional yang akan dicapai.
Proses
pembelajaran terjadi berpijak pada tujuan.sebelum melaksanakan
pembelajaran,seorang guru harus mentapkan terlebih dahulu tujuan yang ingin
dicapainya.tujuan pembelajaran akan menjadi tolak ukur atau pangkal berpijak
dalam:
a.
Memilih bahan
b.
Memilih metode dan media
c.
Menentukan proses pembelajaran,dan
d.
Merumuskan alat/standar penilaian
(evaluasi,ujian,ulangan).
a)
Tujuan
Pembelajaran
Tujuan
pembelajaran adalah pernyataan tentang hasil pembelajaran apa yang
diharapkan. Tujuan pembelajaran
merupakan aspek yang perlu
dipertimbangkan dalam merencanakan pembelajaran. Sebab segala kegiatan pembelajaran muaranya
pada tercapainya tujuan tersebut. Keuntungan yang diperoleh dari penuangan
tujuan pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut :
1. Waktu
mengajar dapat dialokasikan dan dimanfaatkan secara tepat.
2. Pokok
bahasan dapat dibuat seimbang.
3. Guru
dapat menetapkan berapa banyak materi pelajaran yang dapat atau sebaiknya
disajikan dalam setiap jam pelajaran.
4. Guru
dapat menetapkan urutan dan rangkaian materi pelajaran secara tepat.
5. Guru
dapat dengan mudah menetapkan dan mempersiapkan
strategi belajar mengajar yang paling cocok dan menarik.
6. Guru
dapat dengan mudah mempersiapkan berbagai keperluaan peralatan maupun bahan
dalam keperluan belajar.
7. Guru dapat dengan mudah mengukur keberhasilan
siswa dalam belajar.
8. Guru
dapat menjamin siswa bahwa hasil belajarnya akan lebih baik dibandingkan dengan
hasil belajar tanpa tujuan yang jelas.
b)
Metode
Pembelajaran
Variabel
metode pembelajaran diklasifikasikan lebih lanjut menjadi tiga jenis,yaitu :
1.
Strategi Pengorganisasian
(Organizational strategy)
2.
Strategi Penyampaian (Delivery Strategy)
3.
Strategi Pengelolaan (Management
strategy)
1.
Strategi
Pengorganisasian (Organizational strategy)
Adalah
metode untuk mengorganisasi isi bidang studi yang telah dipilih untuk
pembelajaran. “Mengorganisasi” mengacu pada suatu tindakan seperti pemilihan
isi,penataan isis,pembuatan diagram,format dan lainnya yang setingkat dengan
itu. Strategi pengorganisasian dibedakan
menjadi dua yaitu jenis,yaitu strategi mikro
dan strategi makro. Strategi mikro mengacu kepada metode
untuk pengorganisasian isi pembelajaran yang berkisar pada satu konsep,atau
prosedur,atau prinsip. Strategi makro mengacu kepada metode
untuk mengorganisasi isi pembelajaran yang melibatkan lebih dari satu
konsep,atau prosedur atau pinsip.
2. Strategi
Penyampaian (Delivery Strategy)
Strategi Penyampaian adalah metode untuk
menyampaikan pembelajaran kepada siswa dan atau untuk menerima serta merespon
masukan yang berasal dari siswa. Media pembelajaran merupakan bidang kajian
utama dari strategi ini.
Sekurang-kurangnya ada dua fungsi dari strategi ini, yaitu :
·
menyampaikan isi pembelajaran kepada si
belajar,dan
·
menyediakan informasi atau baha-bahan
yang diperlukan siswa untukmenampilkan unjuk kerja.
Terdapat
lima cara dalam mengklasifikasikasi media untuk mendeskripsikan strategi
penyampaian :
1.
Tingkat kecermatannya dalam
menggambarkan sesuatu
2.
Tingkat interaksi yang mampu ditimbulkan
3.
Tingkat kemampuan khusus yang
dimilikinya
4.
Tingkat motivasi yang dapat
ditimbulkannya.
5.
Tingkat biaya yang diperlukan.
3.
Strategi
Pengelolaan (Management strategy)
Strategi Pengelolaan adalah metode untuk
menata interaksi antara si belajar dan variable metode pembelajaran
lainnya,variable strategi pengorganisasian dan penyampaian isi
pembelajaran. Strategi pembelajaran
merupakan komponen variable metode yang berurusan dengan bagaimana menata
interaksi antara si belajar dengan variable pembelajaran lainnya. Strategi ini berkaitan dengan pengambilan
keputusan tentang strategi pengorganisasian dan strategi penyampaian mana yang
digunakan selama proses pembelajaran.
Ada tiga klasifikasi penting variable strategi pengelolaan,yaitu
penjadwalan pembuatan catatan kemajuan belajar siswa dan motivasi.
2.2 ASPEK-ASPEK
SERTA ARAH PERKEMBANGAN
1.
Perkembangan
Motorik dan Persepsi
Perkembangan
motorik mengikuti prinsip “dari atas ke bawah” dan “dari pusat ke luar”.
Pertumbuhan sel, struktur system syaraf dan jaringan otak membuat motorik lebih
berfungsi. perilaku motorik itu berupa:
a.
Gerak
reflex, yang akan menjadi berkurang pada usia 3 atau 4 tahun; tetapi reflex
tertentu tetap ada sepanjang hidupnya
b.
Perilaku
mengisap, merupakan kegiatan kenikmatan yang mengasyikkan maupun untuk memenuhi
kebutuhan makan/minum.
c.
Menangis
dan tersenyum, merupakan perilaku
emosional
d.
Emosi, sebagai sarana adaptasi
(penyesuaian), dan ketahanan hidup.
Pertumbuhan fisik
anak dapat dibedakan dalam :
1.
endomorfik
2.
mesomorfik
3.
ekomorfik
Pertumbuhan
fisik dipengaruhi oleh:
1.
Faktor
biologis : gen, kematangan, dan hormone,
2.
Faktor
lingkungan : gizi, kesehatan, suasana emosional dan latihan.
2. Perkembangan
Kognitif dan Kesiapan Belajar
Istilah kognitif berasal dari kata cognition yang
padanannya knowing, berarti mengetahui. dalam arti luas , cognition ( konisi)
ialah perolehan , penataaan dan penggunaan dan pengetahuan. Istilah kognitif
menjadi popular sebagai salah satu domain atau wilayah / wilayah ranah
psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan
pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesenjangan,
dan keyakinan. Perkembangan kognitif
yang paling berpengaruh dalam pembelajaran adalah teori dari Peaget kata kunci
dari teori peaget adalah skema , yaitu kemampuan beradaptasi terhadap
lingkungan.
Perkembangan kognitif merupakan perkembangan bila tidak
mampu menyesuaikannya maka akan menjadi ketidak keseimbangan penyesuaianya itu
dicapai melalui proses asimilasi dan akodomasi.
Asimilasi , adalah proses menyerap informasi baru dan menyesuaikannya
kedalam struktur kognitif . Akomodasi ,
adalah proses memodifikasi struktur kognitif internal, disesuaikan dengan
informasi baru dan tuntutan lingkungan.
3.
Perkembangan Pribadi dan Social
Perkembangan pribadi mencangkup : Konsep diri, emosi,
independensi, dan tanggung jawab. Konsep diri anak sekolah dasar masih
berorientasi pada diri sendiri (egosentris); keinginan menonjolkan dirinya
cukup tinggi; emosi anak sekolah dasar belom stabil; cenderung tidak toleran,
agresif, kesadaran bersalah rendah, dan masih egoistic. Bagaimanapun, anak sekolah dasar akan berkembang
menjadi altruistik (peduli akan kepentingan orang lain): bersifat kooperatif,
toleran, menyadari kesalahannya.
Independensi (kemandirian) dan tanggung jawab anak
sekolah dasar juga masih dalam pertumbuhan awal, terkait dengan konsep diri dan
emosinya. Dari segi social, anak sekolah dasar mulai senang bersama orang lain
membentuk kelompok, terbuka terhadap informasi dan sadar akan identitasnya
serta jenis kelaminnya.
2.3 PENDEKATAN PEMBELAJARAN
Bahan ajar dan
proses pembelajaran di sekolah dasar harus bertolak dari prinsip
ketercernaan,yang di sebut Developmentally Appropriate Practice (DAP).
Pendekatan ini menghendaki agar bahan dan tugas di rancang dan di laksanakan
sejalan dengan karakteristik (ciri-ciri dan sifat-sifat) perkembangan siswa.
1.
Hakikat
dan Prinsip Pendekatan Perkembangan
Dalam
proses pembelajaran, pendekatan perkembangan menekankan kesesuaian dengan
perkembangan anak. Pendekatan perkembangan ini memandang :
1) Anak
sebagai Subjek,yang memiliki kecakapan mental yang terus berkembang
2) Belajar
sebagai proses kreatif.
3) Pengetahuan
hasil belajar sebagai konstribusi antara subjek dan objek,dan
4) Mengajar adalah menciptakan lingkungan belajar yang
sesuai dengan perkembangan anak.
2.
Keragaman
Individual dalam Pendekatan Perkembangan
Secara
selintas pengertian Individualized
Intruction yaiu pengajaran yang
memperhatikan atau berorentasi pada perbedaan-perbedaan individual anak. Individualized
Intrucksion tidaklah berarti bahwa
pengajaran harus berdasar atas jalanya satu orang guru dengan satu orang murid,
akan tetapi penting, walaupun pengajaran berjalan secara bersamaan guru harus
memberikan pelayanan pada setiap anak sesuai dengan
perbedaan-perbedaan individual itu. Suryosubroto mengatakan bahwa Individualized Instruction merupakan
usaha melengkapi kondisi belajar yang optimum bagi setiap individu :
1.
Panduan
Bagi Implementasi Pendekatan Perkembangan
Masalah penting yang
sering dialami guru adalah memilih atau menentukan materi pembelajaran atau
bahan mengajar yang tepat dalam rangka membantu siswa mencapai kompetensi. Hal
yang menyebabkan masalah itu adalah, bahwa kenyataannya secara garis besar
kurikulum atau silabus hanya ditulis dalam bentuk “ materi pokok”. Tugas guru selanjutnya adalah menjabarkan
materi pokok tersebut agar menjadi bahan ajar yang lengkap. Cara untuk
memanfaatkan masalah ini adalah bagaimana cara mengajarkannnya ditinjau dari
pihak guru, dan cara mempelajarinya ditinjau dari pihak murid.
2. Dasar Perlunya Perencanaan
Pembelajaran
Perencanaan adalah suatu cara untuk mengantisipasi
dan meyeimbangkan perubahan. Perlunya
perencanaan dalam pembelajaran dimaksudkan agar dapat dicapai perbaikan
pembelajaran. Upaya perbaikan pembelajaran ini dilakukan dengan asumsi sebagai
berikut :
1)
Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran
perlu di awali dengan perencanaan pembelajaran yang diwujudkan dengan adanya
desain pembelajaran.
2)
Untuk merancang suatu pembelajaran perlu
menggunakan pendekatan system.
3)
Perencanaan desain pembelajaran diacukan
pada bagaimana seseorang belajar.
4)
Untuk merencanakan suatu desain
pembelajaran diacukan pada siswa perorangan.
5)
Pembelajaran yang dilakukan akan
bermuara pada ketercapaian tujuan pembelajaran,dalam hal ini akan ada tujuan
langsung pembelajaran, dan tujuan pengiring dari pembelajaran.
3.
Prinsip-Prinsip
Umum Tentang Mengajar
Prinsip-prinsip umum
yang harus menjadi pegangan guru dalam melaksanaka proses belajar mengajar
adalah sebagai berikut :
1.
Mengajar
harus berdasarkan pengalaman yang sudah dimilki siswa. Apa yang
telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari bahan yang akan
diajarkan. Oleh karena itu, tingkat
kemampuan siswa sebelum proses belajar mengajar berlangsung harus diketahui
guru. Tingkat kemampuan semacam ini
disebut entry behavior. Entry behavior
dapat diketahui diantaranya dengan melakukan pre test. Hal ini sangat penting agar proses belajar
mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
2.
Pengetahuan
dan keterampilan yang diajarkan harus bersifat praktis. Bahan
pelajaran yang bersifat praktis berhubungan dengan situasi kehidupan. Hal ini dapat menarik minat, sekaligus dapat
memotivasi belajar.
3.
Mengajar
harus memperhatikan perbedaan individual setiap siswa. Ada
perbedaan individual dalam kesanggupan belajar.
Setiap individu mempunyai kemampuan potensial seperti bakat dan
intelegensi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Apa yang dapat dipelajari seseorang secara
tepat, mungkin tidak dapat dilakukan oleh yang lain dengan cara yang sama. Oleh karena itu, mengajar harus memperhatikan
perbedaan tingkat kemampuan masing-masing siswa.
4.
Kesiapan
(readiness) dalam belajar sangat penting dijadikan landasan dalam mengajar. Kesiapan adalah kapasitas (kemampuan
potensial) baik bersifat fisik maupun mental untuk melakukan sesuatu. Apabila siswa siap untuk melakukan proses
belajar,hasil belajar akan dapat diperoleh dengan baik. Sebaliknya bila tidak siap, tidak akan
diperoleh hasil yang baik. Oleh karena
itu, pengajaran dilaksanakan kalau individu mempunyai kesiapan.
5.
Tujuan
pengajaran harus diketahui siswa. Tujuan pengajaran merupakan rumusan
tentang perubahan perilaku yang diperoleh setelah proses belajar mengajar. Apabila tujuan pengajaran diketahui, siswa
mempunyai motivasi untuk belajar. Agar
tujuan mudah diketahui, harus dirumuskan secara khusus.
6.
Mengajar
harus mengikuti prinsip psikologi tentang belajar. Para ahli psikologi merupakan prinsip
bahwa belajar itu harus bertahap dan meningkat.
Oleh karena itu, dalam mengajar haruslah mempersiapkan bahan yang
bersifat gradual yaitu:
a.
Dari sederhana kepada yang kompleks
(rumit)
b.
Dari konkret pada yang abstrak
c.
Dari umum (general) kepada yang kompleks
d.
Dari yang sudah diketahui (fakta) kepada
yang tidak diketahui (konsep yang bersifat abstrak).
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang
kompleks. Dimyati dan Mudjiono (2009:9) : proses belajar terjadi berkat siswa
memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Proses pembelajaran merupakan implementasi
(penerapan) kurikulum sebagai salah satu unsur (komponen) dari system
pembelajaran (instruksional). Adapun komponen yang mencakup pembelajaran
sebagai system : input (guru, siswa, materi, metode dan media), proses pembelajaran, dan
output (keluaran).
Tujuan
pembelajaran adalah pernyataan tentang hasil pembelajaran apa yang
diharapkan. Tujuan pembelajaran
merupakan aspek yang perlu
dipertimbangkan dalam merencanakan pembelajaran. Sebab segala kegiatan pembelajaran muaranya
pada tercapainya tujuan tersebut.
Ada beberapa variabel metode pembelajaran
diklasifikasikan lebih lanjut menjadi tiga jenis, yaitu : Strategi Pengorganisasian, Strategi Penyampaian, Strategi Pengelolaan.
Aspek-aspek pembelajaran ke arah perkembangan :
1.
Perkembangan
motorik dan persepsi
2.
Perkembangan
kognitif dan kesiapan belajar
3.
Perkembangan
pribadi dan sosial
Bahan
ajar dan proses pembelajaran di sekolah dasar harus bertolak dari prinsip
ketercernaan yang disebut Developmentally Appropriate Practice (DAP).
Pendekatan ini menghendaki agar bahan dan tugas dirancang dan di laksanakan
sejalan dengan karakteristik (ciri-ciri dan sifat-sifat) perkembangan siswa.
3.2 SARAN
Demikianlah
dalam hal ini penyusun akhiri makalah ini tak lupa mohon maaf kepada semua
pihak, kritik dan saran penyusun harapkan demi perbaikan penulisan makalah ini
selanjutnya.
LAMPIRAN




DAFTAR PUSTAKA
B.Uno, Hamzah.2010.Perencanaan Pembelajaran. Jakarta: Bumi
Aksara
Trimo. 2009. Landasan Pendidikan. Semarang: IKIP PGRI
SEMARANG PRESS
Hamalik, Oemar.
2001.Proses Belajar Mengajar.
Jakarta: Bumi Aksara.
http://www.academia.edu/11235604/Dasar Dasar_Pembelajaran_di_Sekolah#
https://www.google.com/searchprosespembelajaran+sd&oq=proses+pembelajar
https://www.google.com/search?proses+pembelajaran&oq=proses+&gs_l=psy
https://www.google.com/search?Pembelajaran+di+sekolah+dasar&client
SHARING IS GOOD

Komentar
Posting Komentar